Agen Tangkas
Gong kompetisi sepakbola paling tinggi, Indonesia Super League (ISL) 2013-2014, sudah dibunyikan. Dua pekan telah dilewati. Lantas, bagaimana peta awal persaingan di kompetisi yang kini berpola dua wilayah ini?Sejumlah tim-tim tradisional menunjukkan geliatnya untuk menunjukkan taring mereka sebagai salah satu kandidat utama. Arema Cronous sejauh ini menjadi tim yang bisa dianggap paling mumpuni untuk merengkuh trofi juara musim ini.
Di tangan Suharno, pelatih yang menggantikan sosok Rahmad Darmawan, Arema tetap mampu menunjukkan performa solid. Bahkan, bisa dikatakan, Arema yang sekarang lebih dinamis.
Dua pekan ISL dilewati, auman anak-anak Singo Edan menggema -- mengirimkan sinyal persaingan kepada rival. Persijap Jepara dan Persik Kediri jadi korban keganasan Arema. Kedua tim tersebut dihajar dengan skor mencolok.
Persijap dihajar 4-1, sementara Persik tidak beri ampun dengan berondongan lima gol tak berbalas! Di partai ketiga, tadi malam, Arema menunjukkan mentalnya dengan memukul tuan rumah, Sriwijaya FC dengan kemenangan 2-0.
Hasil sempurna di tiga laga sontak melambungkan Arema di puncak klasemen sementara Grup 1 (Wilayah Barat). Mereka mengungguli salah satu favorit lainnya, Persib Bandung yang tersandung di partai ketiganya; ditahan Persijap. Persib menempati peringkat dua dengan tujuh poin.
Persija Jakarta, yang musim lalu tampil kurang impresif, menunjukkan sinyal kebangkitan. Dengan skuad yang masih relatif sama dengan musim lalu, pelatih Benny Dollo sukses membawa anak asuhnya melewati dua laga dengan kemenangan.
Setelah membuka Liga dengan kemenangan 2-1 atas tuan rumah Barito Putera, Macan Kemayoran membuktikan taringnya dengan menggasak Semen Padang 2-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu kemarin.
Dari dua hingga tiga laga yang telah dilakoni, tim-tim di atas inilah yang kemungkinan besar akan bersaing untuk menjadi yang terbaik di grup 1 –tanpa mengurangi hormat untuk sejumlah tim lain seperti SFC, Semen Padang, dll-.
Sementara dari Grup 2 (Wilayah Timur), juara musim lalu Persipura Jayapura belum menunjukkan keperkasaannya seperti musim lalu. Dua kali melakoni laga di kandangnya, Stadion Mandala, hanya satu kemenangan yang dipetik anak-anak asuh Jacksen F Tiago.
Usai menang telak 3-0 atas Persela di laga pembuka, Boaz Solossa dkk dipaksa bermain imbang 2-2 tim semenjana, Persepam Madura United. Imbasnya, mereka untuk sementara ini kalah bersaing dengan tim pendatang baru, Persebaya Surabaya.
Baru promosi di musim ini, skuad Bajul Ijo yang diarsiteki Rahmad Darmawan dan pemain-pemain top macam Greg Nwokolo, Hasyim Kipuw, dan pemain-pemain muda jebolan SEA Games Myanmar kemarin, tampil impresif.
Dua laga mereka lewati dengan hasil sempurna. Meski dengan skor yang tipis, Persebaya sukses menundukkan lawan tangguh, Mitra Kukar (2-1) dan Persisam Putra Samarinda (1-0).
Hasil ini membuat mereka memuncaki klasemen sementara Grup 2 dengan enam poin, mengungguli Persisam dan Persipura yang sama-sama mengemas empat poin.
Wasit Masih Jadi Masalah
Secara umum, dua pekan kompetisi berjalan, ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian serius dari PSSI atau PT Liga selaku operator kompetisi. Salah satu yang cukup krusial ialah permasalahan wasit.
Dalam dua pekan ini, wasit dinilai kurang apik dalam menjalankan tugasnya. Beberapa keputusan yang mereka keluarkan bahkan dianggap cukup merugikan bagi beberapa tim, dan tak jarang keputusan itu memantik kericuhan antar pemain.
Bukti konkretnya terjadi pada duel Persebaya-Mitra Kukar di laga pembuka, 1 Februari lalu di Stadion Gelora Bung Tomo, kandang Persebaya.
Kejadian dipicu oleh keputusan wasit Dodi Setia Purnama yang tidak memberikan hadiah penalti kepada kubu Mitra Kukar yang mengklaim telah terjadi handsball yang dilakukan bek Persebaya, Ambrizal saat menghalau tendangan pojok Kukar.
Imbasnya, para pemain pun mengerubungi Dodi untuk menutut penalti, hingga terjadilah insiden kericuhan. Pihak PSSI melalui Komite Perwasitan yang dipimpin Roberto Rouw akhirnya mengistirahtkan Dodi untuk sementara waktu, sambil mempelajari kejadian tersebut.
Insiden seperti ini nampaknya belum sirna dari kompetisi sepakbola Indonesia. Entah apa yang jadi alasan. Apa karena wasitnya yang kurang kredibel? atau justru kedewasaan timnya yang kurang?
Kalau berkaca pada kompetisi sepakbola di luaran sana, insiden wasit lalai melihat suatu kejadian sehingga merugikan salah satu tim, juga kerap terjadi. Namun, tidak ada protes yang berlebihan dari pemain.
Mereka hanya memprotes dalam konteks yang normal, beradu argumen! Bukan berbondong-bondong mengerubungi dan mendorong sang pengadil. Selebihnya, mereka yang masih tidak puas dengan keputusan itu mengajukan protes resmi ke otoritas sepakbola masing-masing untuk mengambil tindakan atas wasit atau ofisial pertandingan yang dianggap lalai.
Sedangkan soal keputusan wasit membuat mereka rugi–karena kalah atau sebagainya--mereka tetap menerimanya dan memilih untuk fokus dan tampil lebih baik di laga berikutnya, bukannya terus mendesak wasit mengubah keputusannya. Itu terjadi karena mereka sadar bahwa wasit adalah pemimpin pertandingan yang punya otoritas mutlak dalam mengambil keputusan!
www.sbo338.com

No comments:
Post a Comment